Postingan

Krisis Identitas

Saya baru saja mengikuti workshop menulis kreatif, dimana di situ diminta memutuskan identitas kita apa, kita ingin dikenal sebagai apa, sebelum kita mulai membuat tulisan.   Karena, menurut instrukturnya yang canggih itu, semua tulisan yang kita buat harus dapat mendukung branding kita, sehingga identitas kita, branding kita menjadi penting.   Semua yang kita tulis merupakan marketing dari branding kita itu, identitas kita itu, apakah sebagai penulis, petualang, lawyer, konsultan, pemerhati kuliner, apapun. Dan saya pun bingung….. Saya jadi pusing, galau, bingung, karena tidak dapat menentukan identitas yang kemudian akan menjadi branding saya.   Saya pun jadi krisis pede, krisis identitas.   Padahal di lubuk hati yang paling dalam, saya marah pada diri sendiri, masak sudah setua ini, masih krisis identitas?   Hahaha….. Saya pun terus berargumen pada sang instruktur yang kebetulan sahabat saya itu, bahwa saya memang ingin tiarap dulu saat ini, saya in...

Teman Sebangku

Gambar
Selama sekolah, kita pasti punya teman sebangku, karena kebanyakan sekolah kan memang duduknya berdua-berdua.   Walaupun ada juga sih yang duduknya sendiri-sendiri, tapi pasti kita pernah mengalami duduk sebangku dengan orang lain, yah misalnya ketika naik bus. Menarik memperhatikan masalah teman sebangku ini, apalagi sekarang kan modelnya setiap saat di kelas bisa saja ada perubahan teman sebangku, ga kayak jaman saya sekolah dulu, ya sepanjang tahun teman sebangkunya itu terus, kalo sampe ganti teman sebangku pasti issue nya, wah musuhan tuh mereka, qiqiqi. Kalau diingat-ingat, semasa saya bersekolah, saya termasuk siswa populer, jadi yang ingin jadi teman sebangku saya cukup banyak, hihi.  Namun, saya ingat, saya termasuk yang setia, jarang gonta ganti teman sebangku.  Bahkan waktu duduk di SD, seingat saya sih teman sebangku saya dari tahun ke tahun cuma dia seorang.  Begitu pula waktu duduk di SMP dan SMA, saya biasanya jarang ganti teman sebangku....

At The End of The Day

Sekarang saya selalu membiasakan diri agar setiap hari, selepas pulang ke rumah, untuk mereview apa saja yang saya peroleh dari kegiatan saya hari itu.   Pelajaran hidup apakah yang saya dapatkan, atau bisnis peroleh dari orang-orang   yang saya temui hari itu. Dan ternyata, setiap hari, setiap kegiatan yang saya jalani, setiap orang yang saya temui, pasti ada dampak positifnya bagi saya. Kemarin saya hanya chit chat saja seharian dengan teman-teman.   Kesannya sih kegiatan tidak produktif, walaupun niatnya memang mau bisnis bareng.   Tapi, tetap saja, saya dapat bonusnya.   Di samping tujuan awal pertemuan, pasti saya dapat pelajaran hidup, atau kesempatan bisnis, atau apapun yang positif.   Dari ngobrol ngalor ngidul, akhirnya saya dapat peluang bisnis.   Di samping itu, saya dapat pelajaran hidup, karena mendengar keluh kesah teman-teman tentang masalah yang mereka hadapi atau masalah lain yang menimpa teman-teman kami di luar sana. Sehari...

Miss Rempong

Waktu kecil dulu, masih jaman sekolah, saya selalu jadi ketua kelas, ketua tim, atau ketua kelompok, bahkan ketua OSIS.   Jadi, setiap ada acara di sekolah, saya pasti sibuk banget, rempong banget.   Bahkan ketika jadi mahasiswa, baik di Bandung atau di Amerika, saya ikutan aktif di organisasi, sehingga amat sangat rempong.   Jadi, dibandingkan kedua kakak perempuan saya, semasa sekolah dulu, saya yang paling rempong, jadilah saya miss Rempong   Cuma ketika sudah dewasa, kalah lah saya sama kakak-kakak saya, tapi tetep, julukan miss Rempong ada pada saya lah, karena sekarang kan kakak-kakak saya julukannya sudah ibu Rempong, bukan miss hihihi…. Saya ingat, ketika SD saja saya sudah sibuk atur sana sini, padahal seingat saya, saya bukan ketua kelas setiap tahun, saya lupa pernah jadi ketua kelas di kelas berapa saja.   Yang pasti, walaupun bukan ketua kelas, sampai dengan kelas 6, saya lah informal leader di kelas, jagoannya lah ceritanya, qiqiqi… Ketik...