Postingan

Duniawi

Gambar
“Bu, kalau nanti ibu pulang, apa kita bisa jalan-jalan ke mal?” Begitu tanya adik pada saya.   Saya ga paham, ke arah mana   pertanyaan adik ini.   Saya pun menjawab, “Tentu saja, emangnya kenapa Dik?”, adik pun menjawab, "Kirain Ibu mau mengaji aja terus, ga mau ke mal lagi”. Ya ampun, saya ga menyangka arah pembicaraan adik.   Rupanya adik mengira setelah saya menjalani pendidikan di tempat ini, saya berubah.  Yang lebih mengejutkan lagi, adik memilih kata-kata “duniawi” ckckckckkck...   Saya pun jadi mereview, apa ya kira-kira yang membuat adik berpikir bahwa saya berubah, yang dalam pikiran adik, saya ga mikirin duniawi lagi? Ah, ga gitu-gitu amatlah.   Saya pun kemudian menjelaskan panjang lebar pada adik, apa saja aktivitas saya setiap hari di tempat ini.   Saya pikir masih banyak aktivitas yang bisa masuk kategori duniawi kok.   Saya jadi ingat, dulu setiap kali adik datang mengunjungi saya, adik a kan bertanya sampai ma...

Jalan Berbeda

Gambar
Ketika membaca koran nasional pada suatu pagi, mata saya tertumbuk pada satu nama yang sangat familiar, nama kakak saya.  Oh rupanya kakak dipercaya menjadi Kepala dari suatu Pusat Penelitian Nasional.  Betapa bangganya saya... Saya pun jadi teringat, beberapa bulan yang lalu, kakak yang lain juga mendapat kepercayaan memimpin suatu lembaga bergengsi di negeri ini... Itupun gegap gempita di media massa. “Lalu, bagaimana dengan saya?” Saya malahan berada di sini, di tempat yang mungkin dianggap orang adalah tempat yang hina. Duh.... Saat berkesempatan menelepon bunda, saya pun memberikan ucapan selamat pada beliau, atas prestasi yang dicapai kakak sulung.  Bunda terdengar sangat bangga ketika menceritakannya.  Namun, ketika saya bilang, “Maaf ya Bun, anakmu yang bungsu ini malah ada di sini”, Bunda tidak terdengar sedih atau mengeluh, sebaliknya Bunda bilang: “semua anak punya jalan sendiri-sendiri, jalanmu berbeda”. Ya, saya ja...

Mampir

Gambar
Saya ingat dulu pernah ada perdebatan sengit di whatsapp group para bos tentang bagaimana cara memandang hidup. Berawal dari debat sengit tentang permasalahan pekerjaan di kantor yang makin memanas, tiba-tiba salah seorang menyeletuk "Ngapain sih ribut-ribut. Kita di sini kan cuma mampir, minum air doang." Maksudnya ia ingin meredam pedebatan. Toh hidup di dunia ini cuma sebentar, cuma sekadar mampir, hanya sebentar di jalan kita yang masih panjang. Yang kita belum tau sepanjang dan selama apa. Tapi masih saja ada yang menyeletuk "Iya cuma mampir. Tapi saya kan ingin minum air sehat dan bersih." Gara-gara itu, diskusi pun memanas lagi. Hihihi. Masalah mampir ini lah yang akhir-akhir ini jadi memenuhi kepala saya. Karena saat ini saya berada di tempat yang  dari dulu selalu  ingin saya hindari dengan segala daya upaya. Sehingga dulu saya selalu berusaha terus berlari menjauhinya sampai terengah-engah selama empat tahun. Akhirnya tidak dapat dihindari lag...

Stop Worrying

Gambar
Sebelum hari ini tiba, saya tak bisa tahan untuk terus menerus bertanya kepadaTuhan, kenapa saya harus menjalani ini semua? Kenapa kok harus tinggal di tempat ini. Akhirnya saya mengerti ketika mendapatkan jawabannya. Tuhan sedang memberi waktu bagi saya untuk istirahat dan stop khawatir. Selama ini, saya mengurus terlalu banyak hal, mulai dari hal penting sampai yang enggak penting, mulai dari yang sederhana hingga yang rumit. Dengan kepindahan ini saya juga tidak bisa main ponsel. Tidak bisa memeriksa media sosial ataupun sekadar chatting. Saya juga tidak lagi menerima telpon dan tidak bisa main game. Saya terhindar dari ingar bingar grup WhatsApp yang isinya campur aduk, adu argumen, dll. Kini dunia saya sunyi senyap tanpa bunyi notifikasi. Dan yang pasti, saya juga tidak ditelpon oleh agen asuransi, kartu kredit, member hotel, sms penawaran KTA, dan yang utama: saya tidak lagi dikontak debt collector. Hehehe. Sekarang saya jadi tenang, enggak perlu ketakutan mener...